Bel pulang berpunyi. Anak-anak pun berhamburan keluar kelas dengan cirri khasnya, ribut..!!! Kecuali Tanvie, ia berjalan dengan langkah pelan sambil tak hentinya menatap ubin sekolah dengan sangat teliti, entah apa yang ada dibalik ubin itu sampai dia menatapnya sedemikian serius. Diluar gerbang, tidak tampak kak Ian yg biasa menjemputnya. Kali ini memang Tanvie sengaja ingin pilang sendiri naik sepeda. Saat perasaannya kalut seperti ini, Tanvie selalu melampiaskannya dengan naik sepeda sejauh yg ia mampu, yang penting beban hatinya hilang.
Tanvie pergi ke sebuah danau yang tak jauh dari sekolahnya, itu tempat favoritnya karena disana suasananya sangat tenang. Tanvie menyandarkan sepedanya, lalu ia duduk bersandar pada pohon yang cukup rindang, ia memejamkan mata sementara ingatannya tertuju pasa kejadian 3 hari lalu, saat ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Yoga, orang yang sangat disayanginya.
Sore itu, tanpa sengaja Tanvie bertemu dengan Yoga yang lagi jalan sama sseorang cewe. Tanvie tahu, itu pasti Icha, cewe baru yoga, atau lebih tepat selingkuhannya Yoga yang masih berstatus sebagai pacarnya. Entah mendapat keberanian dari mana, Tanvie tiba-tiba menghampiri mereka.
“ hy,, sorry boleh pinjem yoga bentar” ujarnya pada Icha, jelas saja Icha heran dan kesal
“ maksud loe apa??” kata icha dengan nyolotnya. Yoga sendiri terlihat kaget dan kebingungan karena 2 cewe yang dipacarinya kini saling berhadapan dan mungkin saja siap untu berperang gara-gara dirinya.
“ Ga, aku perlu ngomong sesuatu sama kamu sekarang ..!!!” ujar Tanvie sambil menarik tangan Yoga. Icha jelas gak terima dan langsung melepaskan tangan Tanvie dari Yoga.
“ heh, disini ada gue, cewenya Yoga, jadi loe gak bisa seenaknya gitu downg megang tangannya dia …!!”
“ gak usah sombong dech loe, gue juga pacarnya Yoga, jadi loe diem yach..!!! dan asal loe tahu, gue udah pacaran sama Yoga jauh sebelum Yoga kenal sama loe..!!” Tanvie lalu menarik tangan Yoga dan membaeanya ke tempat yang agak jauh biar bisa bicara berdua.
“ Vie…aq,, aq minta maaf.. “ ujar Yoga gugup.
“ maaf,, buat apa ??” Tanvie sedikit sinis, “ maaf kamu gak akan bisa ngebalikin semuanya jadi sepoerti semula ga, “ lanjutnya. Yoga tertunduk karena malu dan merasa bersalah, sementara tanvie, matanya menetap lurus kedepan dan diam seribu bahasa.
“ aku mundur dari hubungan kita “ Ujar Tanvie memecah keheningan
“ maksud kamu ?? “ yoga kaget
“ Udah lah Ga, kita gak usah pura-pura lagi. Gak usah bersikap seolah gak ada apa-apa, padahal kita lagi punya masalah besar. “
“ Vie, aku…..”
“ Ga, aku tahu kamu jenuh sama aku, sama hubungan kita yang udah terlalu lama. Aku sadar kita udah gak sejalan. Perasaan kamu ke aku bukan lagi sebagai pacar, mungkin kamu rsih kalau harus mutusin aku duluan. Kamu gak usah kuatir Ga, aku bisa baik-baik aja tanpa kamu, daripada aku harus menjalani hubungan yang seperti ini, itu jauh lebih menyakitkan untukku. Aku tahu pacar kamu bukan Cuma 1, bukan hanya aku dihati kamu. Kamu udah jauh berubah dari Yoga yanbg aku kenal dulu, kamu udah gak sayang aku.Hubungan kita sbg pacar udah lama hilang, kasih sayang itu, kebahagiaan kita, semuanya..” Tanvie terdiam beberapa saat menahan sesak didadanya, seentara yoga, ia hanya tertunduk mendengar semua ucapan Tanvie. Air mata mulai menetes membasahi pipinya
“ kamu punya orang lain yang lebih kamu sayang, begitupun aku. Jadi buat ap kita terus begini, Cuma kan saling menyakiti. Aku gak mau berantem sama kamu, aku mau kita putus baik-baik. Yang udah terjadi ya udahlah..gak usah diinget-inget lagi, toh kita juga udah saling melupakan sejak lama. Ini yang terbaik buat kita. Aku harap setelah ini, gak usah ada benci ataupun ras bersalah diantara kita, Maaf karena selama ini aku gak bisa jadi pacar yang baik buat kamu. “
Tanvie langsung pergi setelah mengungkapkan semua unek-uneknya itu, tanpa member kesempatan pada Yoga untuk menjelasjkan sesuatu atau untuk sekedar membela diri. Meski menangis, Tanvie merasa lega sudah mengungkapkan semuanya. Ia tidak menyesak meski merasa sangat kehilangan.
****
Butuh waktu bagi Tanvie untuk bisa melupakan semuanya, ia menangis tiap kali ingat kejadian itu. Sama seperti hari ini, ia kembali menangis sambil memeluk TUTU, boneka kesayangannya yang selalu ia bawa karena ukurannya kecil. Tanvie memeluk tutu dengan erat sambil menangis menahan perih dihatinya. TAnvie fikir, Yoga yang terakhir untuknya, Tanvie tulus menyayanginya, tapi pengkhianatan Yoga terasa begitu menyakitkan untuknya. Perih rasanya saat ia mengingat semua kenangan yang pernah mereka lewati berdua, @tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kebersamaan mereka. Danau itu saksi bisu betapa sakit yang ia rasakan saat ini.
“ jangan kekencengan downg meluknya, gak bisa nafas nich…!!” tiba-tiba saja suara itu terengar dan membuat Tanvie kaget setengah mati, san langsung menyeka air mata dipipinya.ia melepaskan tutu dari pelukannya lalu memeperhatikannya dengan seksama
“ Tutu, kamu bisa bicara ??” ujarnya smbil menyeka air matanya.
“ aku kali yang ngomong, “ jawab seorang cowo yang muncul dari belakang tanvie dan kemudian duduk disampingnya.
“ Arya….” Seru Tanvie heran, cwo itu Cuma tersenyum lau mengusap air mata Tanvie
“ kamu kenapa nangis..??” ujarnya
“ Arya…” seru Tanvie lagi, tanpa sadar Tanvie spontan memeluknya. “ kok kamu disini??”
“ emang gak boleh gitu??” Arya balik bertanya.
Tanvie masih tidak percaya kalau Arya, mantan pacarnya kini ada di hadapannya. Tanvie senang sekali bisa bertemu dengan Arya, selam ini mereka hanya berkomunikasi lewat telp atau email.
“ kenapa kamu gak bilang kalau mau kesini??” Tanya Tanvie sambil menuntun sepedanya,
“ giman mau bilang, hapi kamu selalu gak aktif tiap aku telp.” Jawab Arya, ternyata, gara-gara sibuk patah hati Tanvie sampai lupa tidak menghidupkan handphone.
Mereka berjalan menyusuri tepi danau sambil menikmati suasana sore yang indah berdua.
***
Setelah pertemuannya dengan Arya, Tanvie seolah menemukan kebahagiaannya kembali. Arya memang salah satu sumber kebahagiaan terbesar yang dulu pernah hilang dari hidupnya, kini Arya kembali lagi disisinya, meski Tanvie belum tahu jelas apa tujuan Arya menemuinya lagi. Sejak dulu, Tanvie selalu merasa nyaman saat bersama Arya, bahkan smapai sekarang setelah mereka putus dan tidak bertemu sekian lama, perasaan itu tetep sama. Meski pernah pacaran dengan Yoga, tapi itu tak sedikitpun mengurangi rasa sayangnya pada Arya, karena Arya tak tergantikan baginya. Ada rasa sesal dihati tanvie saat mengingat semua kenangannya bersama Arya.
“ Kenapa dulu kita mesti pisah sich Ar…??? Dulu kita bahagia, tapi kenapa takdir gak berpihak sama kita??? Andai dulu aku gak kehilangan kamu, aku gak akan ngerasain sakit ini. Jika kamu tetap disisiku, aku gak mungkin jatuh cinta sama Yoga dan nerimasemua pengkhiaatan ini…” ujar Tanvie lirih sambil menangis saat melihat foto-fotonya bersama Arya yang masih ia simpan baik-baik.
Tanvie tidak pernah bercerita pada siapaun tentang yang ia rasakan. Apalagi pada Arya, Tanvie selalu berdikap ceria seolah tak terjadi apa-apa. Ia tidak mau Arya sampoai tahu perasaannya yang sesungguhnya, ia merasa malu.
“ Vie, apa kamu bahagia??” Tanya Arya dengan cukup serius.
“ yach,, aku bahagia..” Tanvie berusaha bersikap tenang
“ pacar kau, apa dia sayang sama kamu??” Tanya arya lagi
“ apaan sich kamu, aneh banget sich nanyanya..” tanvie heran dan mulai gugup “ ya pasti dia sayanglah, namanya juga sama pacar sendiri, masa gak sayang, aneh kamu mah..!!”
“ dari mana kamu tahu hal itu??’ Aryamadih belum yakin
“ ya karena dia pacar aku, gak mungkin dia gak sayang aku, lagian, kita punya sejuta kenangan yang mungkin bisa dia lupain gitu aja. “ terang Tanvie
Kqamu yakin?? Apa bener sebuah kenangan bisa jadi bukti sebuah kasih sayang yang utuh ??”
Kali ini pertanyaan Arya mulai terdengar sinis dan terasa mendesaknya. Entah kenapa, Arya seolah tahu apa yang sebenarnya.
“ besok aku pulang..’ uajr Arya setelah lama terdiam
“ apa??” Tanvie kaget, “ bukannya kata kamu mau pulang minggu depan??”
“ kenapa?? Kamu gak rela kalau aku pergi??” Tanya Arya
“ nggak, kata sipa?/ kenapa aki harus gak rela, aku baik-baik aja disini.” Tanvie mencoba tenang
“ kamu yakin?? Kalau kamu minta aku tetep disini, aku gak akan pergi.” Tawar Arya. Tanvie tidak menjawab, ia malah meminta Arya untuk segera mengantarnya oulang karenahar mulai sore.
Sampai dirumah, Tanvie terus kepoikiran apa yang tadi dikatakan Arya, apabenar dia akan tetap disini untuknya, tapi…kenapa?? Kenapa Arya melakukan semua itu, apa maksudnya. Sementara, Tanvie sendiri sebenernya gak ingin Arya pergi, ia gak mau kehilangan Arya untuk kedua kalinya. Tanvie bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang, haruskah ia mencegah Arya…??? Semalaman Tanvie tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Tanvie tidak pernah tahu bahwa sebenernya Arya sengaja menemuinya karena masih sangat menyayanginya. Tadinya ia fikir, tidak mungkin selamanya harus menjalani long distance dengan Tanvie, ia tidak sanggup. Tapi tenyata Arya lebih tidak sanggup saat harus kehilangan Tanvie. Ternyata ia lebih bahagia saat menjalani long distance, asal bersama Tanvie, daripada harus punya pacar yang dekat tapi itu bukan Tanvie. Tetepi karena sekarang Tanvie ternyata sudah punya kehidupan baru yang lebih bahagia tanpa dirinya, Arya memilih untuk menghilang dan melupakan Tanvie meski itu akan sangat sulit.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tanvie menelp Arya dan memintanya pergi ke danau sebelum ia pergi.
“ Ada apa Vie??” Tanya Arya sesampainya didanau,
“ apa. Tawaran kamu yang kemarin masih berlaku??” ujar Tanvie
“ maksud kamu??”
“ apa kamu akan tetap disini untukku seandainya aku menginginkannya??” tanya Tanvie, AR ya terdiam heran mendengarnya
“ kasih aku satu alasan kenapa aku gak boleh pergi..” pinta Arya, tanpa diduga, Tanvie langsung memeluknya dan menangis dipelukannya
“ aku bohong sama kamu Ar,,,” ujar Tanvie, Arya masih tidak mengerti..” aku bohong tentang semua kebahagiaan itu, aku bohong waktu aku bilang aku baik-baik aja, nyatanya aku trluka, aku mau kamu tetap disini, aku gak bia tanpa kamu..” ujar Tanvie, Arya menatap Tanvie dalam-dalam dan mengusap air matanya
“ aku tahu itu Vie, aku tahu kamu gak bahagia makanya aku disini, buat kamu. Aku juga gak bisa tanpa kamu, aku gak mau kehilangan kamu Vie,,”
Kini mereka sama-sama menyadari dan sama-sama tahu kalau mereka diciptakan untuk satu sama lain, Arya uintuk Tanvie, dan Tanvie untuk Arya, itulah takdir mereka.



0 komentar:
Posting Komentar