Sabtu, 28 September 2013

Penyakit Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh beberapa bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil disebut spirochaeta. Bakteri ini dengan flagellanya dapat menembus kulit atau mukosa manusia normal.

Penyakit leptospira tersebar terutama di daerah tropis dan subtropis, khususnya di daerah berawa-rawa atau pasca banjir. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan penyakit dengan gejala dari yang ringan seperti penyakit flu biasa sampai yang berat atau menimbulkan sindrom termasuk penyakit kuning (ikterus) berat, sindrom perdarahan (perdarahan paru paling sering menyebabkan kegawatan), gagal ginjal sampai menyebabkan kematian.
Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit yang berhubungan dengan rekreasi, terutama yang berhubungan dengan air seperti berenang di sungai. Kejadian bencana alam seperti banjir besar juga memungkinkan banyak orang terinfeksi. Para klinisi perlu mewaspadai penyakit ini.
EPIDEMIOLOGI
Binatang pengerat terutama tikus merupakan sumber penularan leptospira paling penting; binatang mamalia lain juga dapat sebagai sumbar beberapa jenis leptospira tertentu. Binatang-binatang ini dapat mengeluarkan bakteri leptospira dalam jangka waktu yang lama tanpa gejala. Manusia bisa tertular secara langsung maupun tidak langsung dari binatang yang mengidap bakteri tersebut.
Secara alamiah bakteri ini terdapat di air yang terkontaminasi urin binatang pengidap bakteri ini dan dapat bertahan lama. Di air yang pHnya normal dapat bertahan selama 4 minggu. Dengan demikian biasanya kasus penyakit ini sering ditemukan pada musim hujan, terutama pada daerah – daerah banjir.
FAKTOR RISIKO
1. Pekerjaan yang kontak dengan air seperti: petani yang bekerja di sawah, peternakan, pekerja rumah potong hewan, dan tentara yang berlatih di daerah rawa-rawa.
2. Orang yang sedang berekreasi seperti berenang di sungai, rekreasi kano dan olah raga lintas alam di daerah berawa.
3. Di rumah tangga pada orang yang merawat binatang peliharaan, pemelihara hewan ternak, dan tikus di rumah-rumah.
TANDA DAN GEJALA
Berikut adalah gejala klinik pada 150 pasien leptospirosis di Vietnam.
1. Nyeri kepala 98%
2. Demam 97%
3. Nyeri otot 79%
4. Menggigil 78%
5. Mual 41%
6. Diare 29%
7. Sakit perut 28%
8. Batuk 20%
9. Conjuctivitis 42%
10. Pembesaran limpa 22%
11. Pembesaran kelenjar limfe 21%
12. Sakit tenggorokan 17%
13. Pembesaran hati 15%
Leptospirosis disebabkan oleh kontaminasi (kontak dengan) spirochaeta yang dapat ditemukan dalam air yang terkontaminasi air kencing hewan. Ini biasanya terjadi pada daerah beriklim tropis.
- Masa inkubasi 2 sampai 26 hari (rata-rata 10 hari)
- Demam tiba-tiba, menggigil, nyeri otot dan nyeri kepala merupakan gejala awal.
- Mual, muntah dan diare dialami oleh 50% kasus
- Batuk kering dialami oleh 25-35 % kasus
- Nyeri sendi, nyeri tulang, sakit tenggorokan dan sakit perut dapat juga dijumpai tetapi agak jarang
- Pendarahan conjuctiva merupakan tanda khas penyakit ini pada fase leptospira beredar di dalam darah penderita
- Pada fase ke dua atau fase imunitas, menjadi asimtomatis; demam tidak terlalu tinggi, nyeri otot dan gejala gangguan saluran pencernaan menjadi ringan
- Gejala meningitis merupakan tanda khas fase kedua (50%). Kasus berat dengan gejala karakteristik berupa demam tinggi disertai perdarahan, kuning (jaundice) dan gagal ginjal dikenal dengan Weil’s disease; pada keadaan ini angka kematian sangat tinggi.
DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN
- Leukositosis dengan netrofil sering ditemukan.
- Pemeriksaan urin biasanya menunjukkan proteinuri dan ditemukan sel di urin.
- Peningkatan ureum dan kreatinin serum (67%).
- Sekitar 40% pasien menunjukkan peningkatan enzim hepar minimal sampai moderat.
- Di cairan spinal pleositosis, glukosa normal dan protein sedikit meningkat.
- Penegakan diagnosis lebih sering dilakukan dengan pemeriksaan serologis (antibodi).
- Bakteri dapat jelas terlihat dengan menggunakan mikroskop kamar gelap, silver stain atau mikroskop flouresen.
- Leptospira dapat dibiakkan dari darah, urin dan cairan spinal, tetapi tumbuh sangat lambat.
- Isolasi bakteri dari darah berhasil pada 50% kasus.
- Kultur urin biasanya positif sesudah minggu ke dua sampai 30 hari sesudah infeksi.
Pemeriksaan antibodi terhadap leptospira di laboratorium untuk diagnosis pasti dapat dengan cara: MAT (microscopic agglutination test), HI (hemagglutination) test, ELISA (IgM). Selain itu ada pula pemeriksaan cepat menggunakan kit seperti: Dip-S-Ticks (PanBio).
Diagnosis biasanya didasarkan atas gejala klinik dan pemeriksaan laboratorium. Di samping itu anamnesis mengenai pekerjaan serta aktifitas yang berhubungan/kontak dengan air sangat membantu dalam menegakkan diagnosis.
PENGOBATAN
Pengobatan kasus leptospirosis masih diperdebatkan. Sebagian ahli mengatakan bahwa pengobatan leptospirosis hanya berguna pada kasus – kasus dini (early stage) sedangkan pada fase ke dua atau fase imunitas (late phase) yang paling penting adalah perawatan.
Tujuan pengobatan dengan antibiotik adalah:
1. mempercepat pulih ke keadaan normal,
2. mempersingkat lamanya demam,
3. mempersingkat lamanya perawatan,
4. mencegah komplikasi seperti gagal ginjal (leptospiruria),
5. menurunkan angka kematian.
Obat pilihan adalah Benzyl Penicillin. Selain itu dapat digunakan Tetracycline, Streptomicyn, Erythromycin, Doxycycline, Ampicillin atau Amoxicillin. Pengobatan dengan Benzyl Penicillin 6-8 MU iv dosis terbagi selama 5-7 hari. Atau Procain Penicillin 4-5 MU/hari kemudian dosis diturunkan menjadi setengahnya setelah demam hilang, biasanya lama pengobatan 5-6 hari.
Jika pasien alergi penicillin digunakan Tetracycline dengan dosis awal 500 mg, kemudian 250 mg IV/IM perjam selama 24 jam, kemudian 250-500mg /6jam peroral selama 6 hari. Atau Erythromicyn dengan dosis 250 mg/ 6jam selama 5 hari. Tetracycline dan Erythromycin kurang efektif dibandingkan dengan Penicillin.
Ceftriaxone dosis 1 g. iv. selama 7 hari hasilnya tidak jauh berbeda dengan pengobatan menggunakan penicillin. Oxytetracycline digunakan dengan dosis 1.5 g. peroral, dilanjutkan dengan 0.6 g. tiap 6 jam selama 5 hari; tetapi cara ini menurut beberapa penelitian tidak dapat mencegah terjadinya komplikasi hati dan ginjal.
Pengobatan dengan Penicillin dilaporkan bisa menyebabkan komplikasi berupa reaksi Jarisch-Herxheimer. Komplikasi ini biasanya timbul dalam beberapa waktu sampai dengan 3 jam setelah pemberian penicillin intravena; berupa demam, malaise dan nyeri kepala; pada kasus berat dapat timbul gangguan pernafasan.
PENCEGAHAN
Yang paling penting adalah menghindari daerah yang diperkirakan banyak binatang pengeratnya dengan risiko kontaminasi urine hewan tersebut. Beberapa peneliti menganjurkan antibiotik untuk pencegahan; yang terbaik adalah doxycycline 200 mg./minggu.
Selain itu pemberian antibiotik tersebut pada awal penyakit (fase dini) dapat mengurangi gejala seperti: demam, nyeri kepala, badan tidak enak dan nyeri otot; juga dapat mencegah terjadinya leptospiruria (ditemukannya kuman leptospira dalam urin) dan yang penting tidak ditemukan efek samping yang merugikan pasien.
PROGNOSIS
Secara umum kasus yang ditangani dengan baik dengan perawatan yang dianjurkan, prognosisnya baik. Angka kematian menjadi tinggi pada penderita lanjut usia, yang mengalami jaundice berat, datang dengan komplikasi gagal ginjal akut dan dengan kegagalan pernafasan akut.

0 komentar:

 

Design By:
SkinCorner